Perempuan yang Menangisi Telaga
Lama sudah telaga ini keringnya. Telah pula telaga ini lupa seperti apa air terupa. Sepanjang udara, hanya hampa yang terpatri di kedalamannya. Sekalinya juga, bayangan rembulan tak pernah jatuh di sana. Seperti termaktubkan. Akan sebuah janji di masa silam. Sedang perempuan itu masih terus menangis di samping telaga sepanjang malam.
*
Dahulu kala, penjaga telaga pernah begitu terpesona pada sebuah cahaya yang turun dari angkasa. Cahaya yang berasal dari sebuah tubuh manusia. Selasar cahaya yang menyilaukan mata, seperti seribu kunang-kunang yang terpukat, seperti sinar matahari dari jarak dekat namun begitu memikat. Semasa yang sama, ada pula yang pernah begitu terpesona pada jernih air telaga. Ia, si pemilik tubuh bercahaya.
Jemari penjaga telaga berusaha meraup cahaya yang terpancar sampai di hadapannya. Seperti ingin digenggamnya. Sedang pemilik tubuh bercahaya begitu terpesona pada jernih air telaga, ingin direngkuhnya jernih telaga yang sekilau permata. Sebab ujarnya, tak pernah ada air di negeri asalnya sana. Lalu, penjaga telaga tertawa terbahak-bahak. Menganggapnya sebagai lelucon paling hebat. Hingga ia sadari, selasar cahaya yang berpendar dari tubuh orang itu tak lain dan tak bukan memang berasal dari sebuah negeri yang tak berair dan berudara. Dari lingkar cahaya yang kini mengambang di angkasa; rembulan.
Lalu, manusia dari rembulan itu pun memohon pada penjaga telaga agar ia bisa memiliki jernih air telaga. Membawanya pulang ke negeri asalnya. Penjaga telaga terkejut mendengarnya. Baru saja ia mendapat permintaan paling aneh yang pernah ditujukan padanya. Namun sebenarnya, penjaga telaga juga begitu tergiur untuk memiliki cahaya milik manusia rembulan, maka ia berujar akan memberikan air telaga itu jika manusia rembulan mau menukarkan air telaga dengan cahaya yang ia punya.
Awalnya manusia dari rembulan ragu untuk menerima tawarannya, Namun jernih air telaga itu telah menarik hatinya. Ia telah begitu terpesona padanya. Maka, ia pun bersedia untuk menukarnya. Diserahkan cahaya dari tubuhnya itu pada penjaga telaga. Sedang penjaga telaga menyerahkan jernih air yang selama ini ia jaga. Dan manusia rembulan pun pulang, membawa jernih air telaga itu ke angkasa.
Tubuh penjaga telaga jadi bercahaya seketika. Telah dijualnya air telaga demi selasar cahaya bagai raja. Sedang tak jauh dari tempatnya berdiri, lenyap sudah jernih air telaga yang selama ini telah ada.
*
Perempuan itu masih menangisi telaga. Entah berapa lama ia telah menangisi surutnya jernih air di sana. Masih disesalinya mengapa penjaga telaga mengingkari janjinya.
Cahaya di tubuh penjaga telaga nyatanya tak abadi. Seiring ia mati, cahaya itu pun pergi. Tak menyisakan apapun untuk dimiliki. Kini, telah lama sejak penjaga telaga itu mati, jernih telaga tak bisa ditukar kembali. Semalam-malam perempuan itu berdoa agar Tuhan menghapus dosa penjaga telaga dan mengembalikan jernih airnya lagi. Namun hingga kini, Tuhan tak jua menjentikkan jemari di tempat ini.
Telaga bukanlah telaga tanpa jernih air di dalamnya. Yang tersisa kini hanya hampanya telaga tanpa jernih airnya lagi. Waktu demi waktu, orang-orang itu bahkan tak lagi mengingat telaga ini. Rupa air hanyalah legenda yang diceritakan turun-temurun pada anak-anak mereka. Jernih air hanyalah cerita. Kilau telaga hanyalah hikayat belaka. Juga, orang-orang itu yang mungkin telah menganggap perempuan itu hantu telaga ini karena semalam-malam ia terus menangis di sini.
*
Manakah yang lebih indah di antara jernih telaga dan cahaya rembulan? Bila penjaga telaga menyukai sesuatu yang menyilaukan matanya. ilalang dan bunga-bunga liar yang turut mati itu telah memilih jernih telaga adanya. Begitu pula dengan sang perempuan yang seumur hidupnya telah memilih kesendirian agar lebih tenang menangisi telaga.
Barangkali yang telah surut tak hanya telaga, lautan pun tak lagi dalam sebab airnya merembes menjadi air mata. Air mata yang memilih perempuan itu menjadi induknya. Hingga, perempuan itu akan terus berdiang di sana. Menangis dan menangis selamanya.
Telah pula hilang dari ingatannya tentang segala kepingan memori hidupnya. Yang ia tahu dalam hidup ini hanya telaga dan air mata. Kepada segala saripati yang membentuk inti hati, telah ditangguhkannya segala memori. Agar ia dapat dapat sepenuh hati berserah diri menangisi telaga ini.
Sementara orang-orang itu terus mempercepat langkahnya ketika melewati telaga. Tangis yang mereka dengar seperti dawai biola yang dicambukkan di tubuh mereka. Mungkin, seperti itulah wujud air mata sebenarnya. Serupa lecutan yang mendaras kulit sampai mengelupas. Meminta didengarkan. Sebab kehadiran selalu menuntut perhatian.
Di pagi buta, saat orang-orang itu pergi ke ladang, sering mereka temui tangis perempuan itu menyerupai jerit bayi meminta dekapan. Di siang hari, tangisnya pelan namun seperti desis ular yang mematikan. Sedang di malam hari, suara tangisnya sering terbawa angin, terbang sampai ke rumah-rumah penduduk. Terbawa sampai ke gendang telinga semua orang. Mencekik pendengaran.
Semalam-malam, tangis itu tak akan pernah berhenti. Sebab ia telah mengabdikan diri, untuk terus menangisi telaga ini sepanjang hari.
“Ibu, kemana perginya jernih telaga? Seperti apa rupanya? Apa ibu pernah melihatnya? Kenapa perempuan itu terus menangis di sana?”
“Apa benar dulu penjaga telaga telah menukarnya dengan cahaya manusia rembulan?”
“Aku ingin sekali melihat rupa air telaga, Ibu. Apa kita tak bisa memintanya lagi dari manusia rembulan?”
Maka, ibu-ibu yang tak tahu harus menjawab apa hanya akan berkata seperti ini pada anaknya, “Jangan bermain-main di telaga. Tangis perempuan itu berbahaya.”
Namun, bila anak-anak itu tak terpenuhi rasa ingin tahunya, mereka akan diam-diam pergi ke telaga. Mengintip sang perempuan yang tak pernah berhenti menangis sepanjang hidupnya. Kadangkala, anak-anak kecil itu akan melemparinya dengan kerikil-kerikil kecil dari kejauhan untuk mencari perhatian. Namun, anak kecil yang ingin tahu tapi takut padanya hanya akan diam-diam saja melihatnya menangis di samping telaga. Hanya untuk melihat seperti apa wajahnya. Seperti apa suara tangisnya.
Sedang orang tua mereka tak pernah dapat memahami, mengapa perempuan itu terus menangis sepanjang hari. Tidakkah perempuan itu lelah dan ingin berhenti?
*
Perempuan itu pernah berdoa, lebih baik ia buta daripada yang tampak padanya hanya duka belaka. Diketahuinya pula air mata begitu pendiam. Kepadanyalah keahlian untuk membunuh secara perlahan-lahan teragungkan.
Rasanya, sudah terlalu lama Tuhan meminjamkan kesedihan. Tiada kawan, ia terus menangis sendirian. Seperti perjamuan yang harus ia sendiri menghabiskan. Mungkinkah ini hukuman Tuhan dari kehidupan yang sebelumnya? Bersama dengan ilalang dan bunga liar yang telah mati, ia seperti sedang beradu pendapat. Tentang pedihnya sebuah kehilangan.
Rembulan mungkin kini sedang berjudi. Menduga-duga kapan tangis perempuan itu meneteskan mati. Sebab yang selama ini perempuan itu miliki hanya tangisnya sendiri. Cahaya rembulan tak akan jatuh di tempat itu lagi. Hanya ilalang dan bunga liar yang telah kering yang melatari sunyinya telaga ini.
Malam itu, tiba-tiba tangisnya terhentikan. Ia seperti tak sanggup lagi melanjutkan. Dadanya sesak. Nafasnya tercekat. Bola matanya memerah. Pembuluh darahnya mungkin telah pecah. Barangkali air matanya terlalu banyak terperah. Tapi ia masih ingin menangis. Sungguh ingin terus menangis. Masih tak mau berhenti sebelum air matanya habis.
Sekuat tenaga perempuan itu berusaha terus menangis. Ia tepuk dadanya dengan keras, berharap sisa-sisa air matanya dapat keluar. Dengan tabah ia menjahit kelopak matanya yang telah robek. Air matanya mungkin telah menjadi setajam berlian. Melukainya tiap tetesan. Meski begitu, ia tak akan berhenti. Sebab ia telah berjanji akan terus menangisi telaga ini sampai mati.
Entah itu darah atau air mata, perempuan itu terus membiarkan cairan keluar dari matanya. Ia hanya ingin terus menangis. Meski upahnya perih. Meski kelopak matanya terdaras pedih. Meski kini kedua mata itu memburam. Cahaya telah perlahan-lahan menghilang. Seketika ia dapati penglihatannya hitam. Tak mampu lagi ia menjenguk sinar. Bola matanya dijemput kebutaan.
Namun, ia masih ingin menangis. Terus menangis. Karena ia tahu, apa-apa yang membasahkan hanya air mata. Maka, sesungguhnya selama ini ia tak pernah benar-benar menangisi telaga. Mengapa ia terus menangis di sana hanyalah karena ia ingin mengembalikan jernih telaga seperti semula. Dengan air matanya. Setetes demi setetes ia isi. Berharap telaga itu dapat penuh kembali. Sebab yang telah kering mungkin bukan telaga ini, yang surut mungkin bukan jernih air di sini, tapi nurani yang memilih bersembunyi. Betapa perempuan itu merindukan jernih telaga. Merindukan cermin yang memantulkan indahnya isi dunia dari jernih airnya. Cermin yang tak berdusta. Tanpa samaran apa-apa. Tapi kini, telah lama sudah telaga ini keringnya. Telah pula telaga ini lupa seperti apa air terupa. Sepanjang udara, hanya hampa yang terpatri di kedalamannya. Sedang perempuan itu masih terus menangis di samping telaga sepanjang malam. [*]